Api di Jalan – Aturan yang Membelah Baitulmaqdis Timur

Molotov di Issawiya kembali memicu ketegangan Baitulmaqdis Timur dan disambut tembakan pasukan penyamaran Border Police
Botol Molotov terbakar di jalan saat bentrokan di Issawiya, Baitulmaqdis Timur 2025
Botol Molotov terbakar di jalan saat bentrokan di Issawiya, Baitulmaqdis (Photo: Police Spokesperson’s Unit)

Api yang berkobar di jalan-jalan Issawiya bukan sekadar potret singkat kerusuhan lokal, melainkan bagian dari siklus berulang konfrontasi di Baitulmaqdis Timur. Pada malam hari, unit polisi dan Border Police memasuki kawasan tersebut dan menghadapi tempat sampah yang dibakar, batu, serta botol Molotov yang dilemparkan ke arah mereka. Dalam ancaman langsung, pasukan penyamaran Border Police melepaskan tembakan, melukai seorang remaja berusia 15 tahun dalam kondisi sedang. Insiden ini kembali menyingkap garis tipis antara operasi keamanan rutin dan realitas kota yang dipisahkan oleh aturan yang saling bertentangan.

Molotov dan bendera Jihad Islam

Dalam penggeledahan di lokasi, ditemukan botol Molotov tambahan – sebagian siap digunakan, sebagian sudah dilempar. Polisi juga melaporkan menemukan bendera organisasi Jihad Islam pada remaja yang terluka. Bagi aparat keamanan, simbol ini menjadikan kekerasan jalanan sebagai tindakan yang terhubung dengan ideologi militan terorganisir, memperkuat alasan untuk memberikan respons segera.

(Apakah Sinwar berikutnya akan muncul dari Baitulmaqdis?)

Baitulmaqdis Timur antara kendali dan keterasingan

Insiden di Issawiya menggambarkan perpecahan struktural Baitulmaqdis. Sementara turis merayakan di pusat kota, lingkungan di timur terus diguncang bentrokan berulang antara pemuda dan aparat keamanan. Keterlibatan seorang remaja dalam bentrokan keras, disertai simbol kelompok militan, menimbulkan pertanyaan mendesak tentang masyarakat yang selalu berada dalam tekanan dan tentang generasi baru yang tumbuh di kota dengan aturan yang saling bertentangan.

Polisi Distrik Baitulmaqdis kembali menegaskan bahwa mereka akan bertindak “dengan tangan besi dan tanpa toleransi” terhadap siapa pun yang mencoba menyerang warga atau aparat keamanan. Namun dilema yang lebih luas tetap ada: dapatkah ketertiban di Baitulmaqdis Timur ditegakkan hanya dengan kekuatan, ataukah ini siklus yang sulit diputuskan?