Protes sandera telah menjadi simbol perpecahan sosial yang mendalam di Israel. Di Baitulmaqdis, massa berkumpul berulang kali di Paris Square dekat kediaman Perdana Menteri. Di sana terdengar jeritan kesedihan dan tuntutan keadilan, disertai pertanyaan tentang batas kepatuhan kepada IDF. Dokumentasi video tidak dipandang sebagai insiden sesaat, melainkan tanda dari ketegangan yang terus membentuk wacana publik dan demokrasi
Protes sandera di Baitulmaqdis
Cerita berawal dari sisi kemanusiaan – keluarga dan pendukung yang menyampaikan rasa kecewa dan kehilangan. Menurut mereka, laporan tidak resmi yang menyebut hanya sepuluh sandera masih hidup di Gaza memperkuat keyakinan bahwa negara gagal menunaikan kewajibannya. Dari sudut pandang mereka, kelanjutan perang di Gaza bagaikan vonis mati bagi yang tersisa
Dengan demikian, protes ini melampaui sekadar peristiwa lapangan – memunculkan pertanyaan tentang tanggung jawab negara terhadap warganya dan keseimbangan antara perang dan moralitas dasar
Bentrokan dengan polisi di Jerusalem
Dalam salah satu aksi, ketegangan antara pengunjuk rasa dan polisi meningkat tajam. Laporan dari lokasi menggambarkan penangkapan, penggunaan kekerasan, bahkan pembakaran kendaraan. Bagi para peserta, adegan itu bukan insiden sekali terjadi, melainkan bagian dari pergulatan berkelanjutan antara suara rakyat dan otoritas
Hal ini memperlihatkan peran Baitulmaqdis sebagai panggung di mana kebebasan berekspresi dan hubungan warga–negara terus diuji
Pertanyaan wajib militer dan hati nurani
Di samping tuntutan pembebasan sandera, terdengar pula seruan mengepung kediaman Perdana Menteri dan menolak wajib militer. Bagi sebagian orang, bergabung dengan IDF saat ini bukan hanya perang melawan Hamas, melainkan ancaman langsung bagi nyawa sandera. Meski melihat diri mereka patriotik, mereka menegaskan bahwa panggilan cadangan untuk menaklukkan Gaza adalah perintah yang jelas-jelas ilegal – yang menurut mereka akan membawa kematian bagi sandera terakhir yang bertahan hidup
Dengan begitu, penolakan wajib militer dipandang bukan sekadar kewajiban sipil, melainkan dilema moral yang mendalam. Aksi di Baitulmaqdis pun mencerminkan perdebatan yang lebih luas tentang relasi warga–negara dan tanggung jawab etis individu dalam masyarakat
(Bayangan Kehidupan: Rom Breslavski dari Yerusalem)


