Langsung dari kios-kios berwarna-warni di pasar Mahane Yehuda di Baitulmaqdis – kisah bawang perai, juga dikenal sebagai prasa atau louf. Satu sayuran dengan empat nama berbeda, dicari oleh warga Baitulmaqdis menjelang Tahun Baru Yahudi. Di setiap gang, seperti “Empat Jenis,” dan di Jalan Etz Haim, bawang perai yang menyerupai bawang hijau raksasa tergeletak. Batangnya tersusun rapi, memancarkan kekuatan simbolisnya – harapan untuk memutuskan musuh.
Bawang perai dalam doa Tahun Baru Yahudi
Pada Rosh Hashanah, bawang perai diberkati dengan doa ini: “Semoga kehendak-Mu, ya Tuhan kami dan Tuhan leluhur kami, agar musuh, pembenci, dan semua yang menginginkan keburukan kami diputuskan.” Untuk daya spiritual ini, orang rela membayar 12–14 shekel per kilo.
Mahane Yehuda sebagai tradisi Baitulmaqdis
Keluarga saya tinggal di masa kecil di Jalan Yosef Ben Matityahu, menurun dari Jalan Jaffa, di lingkungan Mekor Baruch Baitulmaqdis. Di rumah nomor 33 inilah hidup saya berlangsung. Dari sini saya berangkat ke kelas satu, dan dari sini juga saya membangun keluarga sendiri. Dari rumah ini saya bergegas membantu ibu saya yang kembali dari pasar Mahane Yehuda, membawa sayuran musiman yang dimasaknya untuk makan siang dan Sabat.
Kenangan masa kecil tentang pasar
Pasar Mahane Yehuda yang dekat bukan hanya tujuan belanja bagi kami, tetapi gaya hidup sehari-hari. Saya biasa menunggu di depan rumah kami, berusaha menangkap kepulangan ibu saya dari Jalan Jaffa ke jalan kami untuk membantu membawa belanjaannya. Menjelang Tahun Baru Yahudi, perubahan suasana terasa jelas – pasar dipenuhi delima, kurma, labu, apel, dan bawang perai.
Dapur keluarga dan simbol pribadi
Ketika ayah saya membawa pulang batang raksasa itu, aroma bawang yang menyengat memenuhi rumah. Rencana memasaknya, agar sesuai dengan doa malam perayaan, beragam. Percakapan pun berlanjut seolah-olah ini pertama kalinya kami mengenal sayuran itu. Usaha ibu saya terbayar. Kami membantu menyiapkan bawang perai untuk direbus hingga lembut, dan setelah menyerah, kami menambahkan bumbu. Segera di penggorengan panas, bakso menari di minyak dengan rasa surgawi – dengan tugas yang tidak mudah: mengusir musuh. Dan saya memikirkan anak yang mengganggu saya saat istirahat, juga guru matematika yang tidak saya sukai. Ternyata bawang perai mengeluarkan apa yang tersembunyi dalam diri kami. Kami memahami, dengan cara kami sendiri, bahwa sayuran ini membawa makna tanpa batas – dan setiap orang menafsirkannya berbeda.
Sayuran yang mencerminkan lapisan Baitulmaqdis
Di Baitulmaqdis, bawang perai memperoleh status khusus. Bukan hanya karena rasanya, tetapi karena ia menceritakan kisah lapisan. Seperti kota itu sendiri, bawang perai dibangun lapis demi lapis. Kupas satu daun, dan yang lain muncul – lembut dan basah. Bawang perai dapat dilihat sebagai metafora hidup bagi Baitulmaqdis, kota para leluhur, kota bersejarah dengan banyak lapisan.
(Black-Eyed Pea di Pasar Baitulmaqdis: Tradisi dan Harapan)
Kesehatan bagi tubuh dan jiwa
Selain tradisi, bawang perai juga merupakan sayuran kesehatan. Kaya vitamin, membantu membersihkan darah dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Inilah hubungannya yang alami antara simbol spiritual dan manfaat fisik – sayuran yang memberkati tubuh dan jiwa sekaligus. Warga Mekor Baruch yang tinggal dekat pasar, serta warga Baitulmaqdis lainnya, membuang bagian bawang perai yang tidak diperlukan, menyingkap lapisan baru yang menjanjikan masa depan lebih bersih dan cerah, dan menemukan inti lembutnya – harapan baru setiap tahun.


