Di Jalan Aza di Baitulmaqdis, hanya beberapa langkah dari kediaman resmi Perdana Menteri, sebuah pemandangan yang tidak biasa muncul. Tenda-tenda berdiri di tengah jalan, meja lipat dan kursi plastik dipasang di atas aspal. Di sinilah keluarga sandera mengadakan makan malam Jumat malam, berbagi dengan para aktivis dan pendukung, dan menyatakan bahwa mereka akan tetap tinggal tidak hanya sepanjang Shabbat tetapi juga selama hari-hari raya yang akan datang. Mereka berharap lebih banyak orang akan bergabung – tokoh-tokoh terkenal dan warga biasa – untuk menunjukkan bahwa penderitaan sandera di Gaza bukanlah sesuatu yang normal.
Protes keluarga sandera di Baitulmaqdis
Di depan kediaman Perdana Menteri, tempat keputusan penting negara diambil, rutinitas kehidupan protes terbentuk. Keluarga menghadapkan pemerintah dengan kehadiran mereka: tenda-tenda berdiri berdempetan, makanan darurat di jalan, dan spanduk dengan nama para sandera. Kehadiran fisik ini bukan hanya jeritan putus asa – ini adalah upaya mendesak untuk mengembalikan isu tersebut ke pusat kesadaran nasional.
Tenda sebagai simbol perlawanan
Tenda-tenda di Jalan Aza bukan sekadar perlindungan sementara dari hujan atau matahari. Mereka telah menjadi simbol – ruang publik di mana rasa sakit pribadi bertemu dengan kemarahan kolektif. Bergabung dengan keluarga adalah para demonstran yang marah pada pemerintah, pada kebuntuan negosiasi, dan pada perasaan bahwa para sandera telah dipinggirkan. Jalan ini berubah menjadi monumen hidup, memaksa setiap orang yang lewat untuk bertanya: apa yang terjadi dengan janji “membawa mereka semua pulang”?
Keluarga melawan masyarakat yang terbiasa diam
Di sinilah terlihat jurang yang dalam: keluarga yang menolak diam berhadapan dengan masyarakat luas yang memilih terbiasa. Masyarakat Israel, terbiasa dengan berita pemboman harian di Gaza, telah menerima yang tak tertahankan – melanjutkan hidup sementara pria dan wanita merana dalam tahanan. Tetapi mereka yang berada di Jalan Aza menolak kebiasaan itu. Mereka menjadikan jalan sebagai rumah mereka untuk menunjukkan bahwa tidak ada yang normal dalam kenyataan ini.
(Pesan WhatsApp memilukan – di kediaman PM di Baitulmaqdis)
Protes di Jerusalem: seruan terakhir untuk membebaskan sandera
Protes ini berkembang, bergeser dari perjuangan pribadi keluarga menjadi seruan moral kepada setiap orang Israel: para sandera tidak bisa menunggu. Di Baitulmaqdis, kota di mana iman bersilangan dengan moralitas dan politik, seruan ini mendapat gaung global. Setiap malam yang dihabiskan di aspal Jalan Aza adalah pengingat hidup bahwa melupakan bukanlah pilihan – dan bahwa kewajiban untuk membawa para sandera pulang adalah mutlak.


