Di Baitulmaqdis, kota yang sarat simbol, sejarah, dan kontras tajam, terdapat kenyataan sehari-hari yang jarang mendapat sorotan: kehidupan para tunawisma. Di antara bangku taman, terminal bus, dan lorong-lorong sempit, banyak dari mereka menghadapi bukan hanya keterasingan dan ketidakstabilan, tetapi juga masalah kesehatan serius yang terkadang mengancam jiwa. Bagi sebagian besar, sistem kesehatan terasa jauh – bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional, karena ketakutan, pengalaman masa lalu, dan kurangnya kepercayaan.
Sebuah inisiatif kota kini berupaya membalik keadaan tersebut. Alih-alih menunggu orang datang ke klinik, layanan medis justru mendatangi mereka. Pemerintah Kota Baitulmaqdis, bekerja sama dengan Magen David Adom dan dokter relawan Dr. Lifshitz, meluncurkan unit medis keliling khusus sebagai bagian dari program penjangkauan bagi tunawisma. Layanan ini beroperasi seminggu sekali di berbagai titik di Baitulmaqdis dan ditujukan bagi mereka yang tidak secara aktif mencari perawatan medis.
Unit medis keliling ini menyediakan pemeriksaan kesehatan dasar, pertolongan pertama, perawatan luka, resep obat, serta edukasi kesehatan. Selain itu, pasien juga dirujuk dan didampingi menuju layanan komunitas dan sistem kesehatan yang lebih luas. Dalam kasus yang lebih kompleks, tim medis mendampingi pasien hingga ke rumah sakit, melalui proses bertahap yang menekankan kehadiran berkelanjutan dan dialog setara.
Kegiatan medis ini merupakan bagian dari kerja berkelanjutan unit penanganan tunawisma Pemerintah Kota Baitulmaqdis yang aktif sepanjang tahun. Unit ini melakukan patroli siang dan malam, memberikan pendampingan personal, membantu akses hak sosial, mengoperasikan tempat penampungan, serta menjalankan berbagai proyek sosial dan komunitas, termasuk loker pribadi, kegiatan sepak bola jalanan, dan perayaan hari raya bersama. Selama musim dingin, ketika risiko meningkat, aktivitas lapangan diperluas untuk menemukan orang-orang dalam kondisi berbahaya, menawarkan tempat berlindung, dan membagikan perlengkapan musim dingin.
Seperti Apa Layanan Medis bagi Tunawisma di Baitulmaqdis di Luar Klinik?
Model yang diterapkan bertumpu pada satu prinsip utama: kehadiran berkelanjutan. Baru-baru ini, seorang tunawisma dengan penyakit lanjut menolak perawatan medis karena rasa takut dan kurangnya kepercayaan. Dr. Lifshitz kembali menemuinya berulang kali, memantau kondisinya dan menjelaskan dengan sabar risiko tanpa perawatan. Setelah beberapa pertemuan, dan dengan pendampingan pekerja sosial, ia akhirnya setuju dibawa dengan ambulans untuk mendapatkan perawatan yang menyelamatkan nyawa.
Wali Kota Baitulmaqdis, Moshe Lion, menyatakan bahwa inisiatif ini mencerminkan tanggung jawab moral kota: “Lilin pertama Hanukkah mengingatkan kita akan kekuatan membawa cahaya ke tempat-tempat paling gelap. Upaya ini mencerminkan tanggung jawab, martabat manusia, dan solidaritas terhadap para tunawisma di Baitulmaqdis.”
Mantan Presiden Israel, Reuven Rivlin, yang hadir dalam peresmian unit medis tersebut, menekankan makna nilai di balik proyek ini: “Ini bukan sekadar peluncuran kendaraan, melainkan peluncuran sebuah misi. Kesadaran bahwa kita harus menjangkau setiap orang, terutama mereka yang berada di pinggiran masyarakat, adalah inti dari kemanusiaan.”
Pada akhirnya, proyek ini bertujuan mengurangi hambatan terhadap sistem kesehatan, mendorong perawatan pencegahan, dan memperkuat hubungan antara tunawisma dan layanan kesehatan berbasis komunitas. Di Baitulmaqdis, layanan medis tidak lagi menunggu di klinik – ia hadir langsung di jalan.


