Suara benturan keras memecah keheningan. Kaca depan bus hancur, para penumpang terkejut, dan sopir menyadari betapa tipis jarak antara keselamatan dan tragedi. Di balik kaca yang pecah, penyelidikan kemudian menemukan tiga remaja dari Baitulmaqdis Timur, berusia 13 hingga 15 tahun, yang melempar batu ke arah kendaraan di utara kota dengan motif kebencian rasial.
Pelemparan batu ke bus di Baitulmaqdis
Polisi Distrik Baitulmaqdis membuka penyelidikan setelah menerima laporan berulang tentang pelemparan batu ke arah bus di dekat persimpangan Neve Yaakov. Beberapa bus mengalami kerusakan serius dan harus ditarik dari layanan. Para pengemudi menggambarkan ketakutan saat kaca bus pecah masuk ke dalam kabin. Melalui rekaman kamera pengawas, polisi berhasil mengidentifikasi tiga tersangka – remaja dari Baitulmaqdis Timur yang bertindak bersama dengan niat untuk melukai.
Dakwaan terhadap remaja dari Baitulmaqdis Timur
Dalam operasi gabungan antara kantor polisi Shafat dan Unit Patroli Khusus (Yasam) Baitulmaqdis, ketiga remaja tersebut ditangkap dan diinterogasi. Penyelidikan mengungkapkan beberapa insiden pelemparan batu yang menargetkan bus dan mobil pribadi dalam beberapa minggu terakhir. Dua tersangka tetap ditahan, sementara yang ketiga ditempatkan dalam tahanan rumah dengan pembatasan ketat.
Kantor Kejaksaan Distrik Baitulmaqdis menyatakan bahwa setelah bukti yang cukup terkumpul, pernyataan jaksa telah diajukan, dan dakwaan resmi akan segera menyusul.
Polisi Baitulmaqdis tentang serangan batu
Dalam pernyataannya, Polisi Distrik Baitulmaqdis mengatakan bahwa mereka “akan terus bertindak dengan tegas dan tanpa kompromi terhadap segala bentuk kekerasan atau teror, terutama yang dimotivasi oleh kebencian rasial yang membahayakan nyawa dan merusak keamanan publik.”
Serangkaian serangan pelemparan batu terhadap bus di Baitulmaqdis menunjukkan ancaman yang meningkat terhadap transportasi umum serta pentingnya penegakan hukum dan pencegahan kekerasan di kalangan remaja.


