Jalan menuju Baitulmaqdis dalam pekan ini berubah menjadi arena tegang antara polisi dan para pengemudi muda yang mencari keuntungan cepat dengan membawa warga tanpa izin. Sebagian besar masih berusia 20-an – ada yang dari Baitulmaqdis Timur, ada juga dari utara dan selatan – semuanya siap ambil risiko. Hasilnya: kejar-kejaran berbahaya, tabrakan lalu lintas, dan pengendara tak bersalah yang terjebak dalam drama yang tak mereka pilih. Salah satu pengemudi bahkan mengaku menerima sekitar 300 ribu rupiah untuk setiap penumpang yang dibawanya.
Jalan Raya 38 – Tabrakan dan Mobil Terbalik
Di Jalan Raya 38 dekat Beit Shemesh, upaya penyelundupan biasa berubah menjadi kejaran berbahaya. Seorang pengemudi 19 tahun dari Rahat menolak berhenti, melewati garis penuh, melanggar lampu merah, dan melaju di bahu jalan. Kejaran berakhir ketika ia menabrak dua mobil – salah satunya terbalik di tengah jalan, membuat pengemudinya luka sedang, sementara pengemudi lain luka ringan.
Jalan Raya 431 – Uang Tunai dan Pengemudi Muda
Dalam operasi polisi Beit Shemesh di Jalan Raya 431, sebuah mobil dengan empat imigran ilegal dihentikan. Pengemudinya, warga Baitulmaqdis Timur, kedapatan membawa puluhan ribu shekel dalam bentuk tunai. Polisi menduga uang itu hasil pembayaran untuk penyelundupan, dan berencana menyitanya sebagai hasil kejahatan.
(Penangkapan TikTok – 218 km/j di Baitulmaqdis)
Ramot – Perjalanan dengan Tarif Tetap
Di utara Baitulmaqdis, patroli polisi di Ramot menghentikan seorang pemuda dari utara setelah ia menjemput lima imigran ilegal dari bundaran Dahiya. Penyelidikan mengungkap pengaturan terstruktur: titik jemput tetap, tujuan jelas, dan tarif yang disepakati per penumpang.


