Di jantung Baitulmaqdis, di depan kediaman resmi Perdana Menteri di Jalan Gaza 35, sebuah momen penuh emosi terjadi tadi malam. Anat Angrest, ibu dari prajurit sandera berusia 22 tahun, Matan Angrest, mengirim pesan WhatsApp singkat namun menyayat hati kepada Sara Netanyahu, istri Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam beberapa kalimat saja, ia memohon agar Sara merespons “sebagai seorang ibu kepada seorang ibu” tentang nasib putranya yang telah ditahan di Gaza selama lebih dari 700 hari.
Pesan WhatsApp
Dalam pesannya, Anat menulis:
“Halo Sara, ini Anat, ibu dari Matan Angrest, prajurit yang terluka dan telah ditahan selama 712 hari. Saya ada di sini, tepat di bawah rumahmu, dan mungkin akan bermalam di jalan. Sebagai seorang ibu kepada ibu – turunlah kepadaku. Tunjukkanlah kemanusiaanmu. Saya ingin menceritakan kepadamu tentang Matan saya dan tentang 48 sandera lainnya. Saya percaya kamu punya pengaruh kepada suamimu yang bisa membantu kami membawa pulang orang-orang yang kami cintai. Saya ada di sini. Menunggu jawabanmu.”
Protes keluarga sandera
Anat Angrest tidak sendirian. Ia bergabung dengan keluarga sandera lainnya yang mendirikan tenda atau tidur dengan kantong tidur di depan kediaman Perdana Menteri – sebagai protes berkelanjutan terhadap macetnya negosiasi. Kehadiran mereka yang terus-menerus di depan jendela rumah yang menyala telah mengubah Jalan Gaza menjadi simbol duka mendalam dan perlawanan yang tak surut.
(Bayangan Kehidupan: Rom Breslavski dari Yerusalem)
Kisah Matan Angrest
Matan Angrest, 22 tahun, berasal dari Kiryat Bialik. Ia bergabung dengan militer pada Agustus 2021 dan bertugas sebagai sopir tank Merkava Mark IV. Pada 7 Oktober 2023, saat serangan Hamas di pos Nahal Oz, ia terluka parah dan diculik ke Gaza.
Sejak itu, ia menderita luka bakar, patah tulang di wajah, kelumpuhan di lengan kanannya, dan laporan menyebut ia dikurung di sel gelap untuk waktu lama. Ia juga ditolak perawatan medis, bahkan sempat membutuhkan resusitasi. Penahanannya mencerminkan tragedi pribadi satu keluarga sekaligus krisis nasional Israel.
Baitulmaqdis sebagai panggung nasional
Perjuangan atas nasib Matan tidak lagi sekadar penderitaan pribadi. Baitulmaqdis telah menjadi panggung protes nasional, di mana para orang tua tidur di trotoar dekat pusat kekuasaan untuk mengingatkan masyarakat dan pemerintah bahwa anak-anak mereka masih ditahan di Gaza. Trotoar di Jalan Gaza 35 telah menjadi ruang sarat rasa sakit sipil, seruan moral, dan politik Israel yang terbuka.
Seruan langsung kepada Sara Netanyahu menunjukkan bagaimana batas antara pribadi dan politik memudar: permohonan seorang ibu untuk putranya menjadi bagian dari gerakan protes publik. Satu pertanyaan tetap bergema di atas gerbang keamanan – apakah seruan ini akan membawa perubahan, atau hanya akan menjadi pesan memilukan di layar ponsel?


