Tomat di Mahane Yehuda – harga melonjak di Baitulmaqdis

Harga tomat di pasar Mahane Yehuda Baitulmaqdis antara 9 hingga 14 shekel per kilo
Tomat di pasar Mahane Yehuda Baitulmaqdis dengan harga antara 9 hingga 14 shekel per kilogram
Lapak tomat dan sayuran di pasar Mahane Yehuda Baitulmaqdis di mana harga naik hingga 9–14 shekel per kilogram (Photo: Jerusalem Online News – Bari Shahar)

Apa yang terjadi dengan tomat? Dahulu sayuran paling umum di setiap rumah Baitulmaqdis, kini hampir lenyap dari pasar Mahane Yehuda. Lapak-lapak yang dulu penuh dengan tomat merah segar kini tampak kosong, dan para pedagang menatap sepi dengan rasa malu.

Harga tomat di Baitulmaqdis berkisar antara 9 hingga 14 shekel per kilogram. Tomat hanya terlihat di beberapa sudut pasar karena warga enggan membeli dalam jumlah besar. Kini pembeli hanya mengambil dua atau tiga buah – mahasiswa, wisatawan, atau keluarga yang kedatangan tamu secara tiba-tiba.

Harga tomat di Baitulmaqdis – lebih murah di supermarket

Yang mengejutkan, di jaringan supermarket besar harganya justru lebih murah. Tujuan awal didirikannya pasar di pusat kota adalah agar warga sekitar bisa membeli hasil bumi dengan harga terjangkau. Sekarang, membuat salad sederhana di Jalan Nahon atau Rashi terasa seperti kemewahan. Satu tomat yang diiris untuk salad seolah menjadi makanan mewah.

Di balik harga itu ada kisah berat: cuaca yang tidak menentu, gelombang panas yang terus berlanjut hingga November 2025, perang yang membuat para pekerja ladang beralih ke medan tempur, serta hujan yang datang tidak pada waktunya merusak bunga. Beberapa petani di Lembah Yordan, Hatzeva, dan wilayah selatan menyerah menanam tomat. Tanaman ini butuh air, tenaga, dan kesabaran. Petani lain beralih ke rumah kaca, di mana biaya listrik, bahan bakar, dan transportasi melonjak tajam. Akibatnya, tomat sederhana menjadi barang langka.

Masakan Baitulmaqdis kehilangan rasa tanpa tomat

Di Baitulmaqdis, tomat bukan sekadar sayur – ia adalah jantung dapur rumah. Setiap panci saus tomat memiliki ceritanya sendiri: moussaka ala Baitulmaqdis yang dimasak berjam-jam dalam saus kental, shakshuka pagi Sabtu dengan roti challah yang menyerap tetes terakhir saus, tomat isi nasi dan daging seperti masakan nenek, dan tomat panggang yang harum semerbak di seluruh gedung. Hingga kini, aroma masakan tomat di Jalan Eshkol masih membangkitkan kenangan dan kehangatan. Salad klasik Baitulmaqdis – dengan bawang ungu, mentimun cincang dan cabai kecil – tak bisa dibuat tanpa tomat.

Pembeli di pasar Mahane Yehuda tak lagi membeli per kilo. Mereka membeli per buah. “Tiga yang bagus, tolong,” kata seorang perempuan muda yang sedang terburu-buru. Tak peduli harganya, yang penting warna merah hadir di meja. Benar, rasa tomat yang baik bukan hanya soal pertanian, tapi juga gaya hidup Baitulmaqdis yang hangat dan penuh makna.

Likopen – masak tomat agar makin kuat

Harapan mungkin datang dari rumah kaca kecil yang menghidupkan kembali varietas lokal atau proyek perkotaan yang menanam tomat di atap dan balkon. Tomat sejati bukan sekadar bahan masakan – ia sumber kesehatan alami, lycopene, vitamin, dan kekebalan tubuh. Semakin lama dimasak, semakin kuat manfaatnya. Tanpanya, segalanya terasa pucat. Tomat harus kembali memenuhi pasar Mahane Yehuda di Baitulmaqdis – segar, murah, dan mudah didapat. Harga harus turun, petani perlu dukungan, dan pesaing dari Turki, Polandia, Belanda, serta Yunani biarlah bersaing di Eurovision, bukan di pasar.