Baitulmaqdis kembali diguncang oleh tragedi. Di lingkungan selatan Gilo, seorang pria menembak mantan istrinya, keduanya berusia sekitar 25 tahun, lalu mengarahkan senjata ke dirinya sendiri. Tim medis dari Magen David Adom berusaha melakukan resusitasi, namun keduanya dinyatakan meninggal di rumah sakit. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah serangan teroris mematikan di persimpangan Ramot, di mana enam orang terbunuh oleh dua pria bersenjata Palestina yang berada di Israel secara ilegal.
Penembakan fatal di Gilo, Baitulmaqdis
Pukul 19:58, pusat darurat 101 Magen David Adom menerima laporan tentang penembakan di Gilo. Tim darurat tiba dengan cepat dan menemukan kedua korban tidak sadarkan diri dengan luka tembak serius. “Kami tiba di tempat kejadian yang mengerikan. Pria itu dalam kondisi sangat kritis, diintubasi dan diberi ventilasi sambil menghentikan pendarahan, sedangkan wanita itu kritis tanpa denyut nadi, sehingga kami melakukan resusitasi lanjutan,” kata paramedis Yisrael Meir Gershoni dan Sapir Turgeman. Keduanya dibawa ke rumah sakit Shaare Zedek dan Hadassah Ein Kerem, di mana kematian mereka dikonfirmasi.
Polisi selidiki dugaan pembunuhan-bunuh diri
Pasukan polisi dalam jumlah besar mengamankan area Gilo dan mulai mengumpulkan bukti serta kesaksian. Menurut penilaian awal, pria itu menembak mantan istrinya sebelum mengakhiri hidupnya sendiri. Polisi menyelidiki latar belakang pribadi pasangan tersebut, sementara layanan sosial dan pemerintah kota bersiap membantu warga yang terguncang.
Serangan mematikan di persimpangan Ramot
Insiden di Gilo menjadi penembakan mematikan kedua yang mengguncang Baitulmaqdis hanya dalam beberapa hari. Pada hari Senin, di persimpangan Ramot, dua pria Palestina bersenjata yang berada di Israel secara ilegal menembaki warga di halte bus, menewaskan enam orang dan melukai sekitar dua puluh lainnya. Kota ini, yang sudah diguncang oleh teror nasionalis, kini juga menghadapi tragedi berdarah dalam lingkup keluarga.
Baitulmaqdis dalam sorotan dunia
Baitulmaqdis, kota dengan makna universal, kembali menjadi sorotan dunia karena pertumpahan darah. Dari serangan teroris hingga tragedi keluarga, kehilangan nyawa yang berulang menggambarkan kenyataan pahit sebuah kota yang terus berjuang menghadapi siklus kekerasan.


