Bagi warga Yerusalem, ini bukan lagi kejadian luar biasa. Pusat kota kembali dilanda kekacauan: demonstrasi menentang undang-undang wajib militer oleh komunitas Haredi berubah menjadi kerusuhan – tempat sampah dibakar, jalan ditutup, polisi dilempari batu, dan warga sipil terluka
Peristiwa pekan ini di Jalan Yehezkel hanya satu dari serangkaian insiden yang terus berulang. Ketika kekacauan menjadi hal yang biasa, masyarakat mulai kebal. Tetapi kebiasaan tidak menjadikannya benar
Sebuah laporan dari LSEC Institute di Belgia (Juli 2025) menyebut pusat Yerusalem sebagai “zona rentan secara sosial” – tempat di mana ketegangan agama dan identitas sering berubah menjadi konflik terbuka. Laporan itu memperingatkan bahwa “ketika kekerasan menjadi dapat diprediksi, masyarakat berhenti menganggapnya sebagai krisis
Kekacauan di Jalan Yehezkel – Terulang Lagi
Menurut kepolisian, ratusan pengunjuk rasa Haredi berkumpul di Jalan Yehezkel awal pekan ini untuk memprotes wajib militer. Aksi itu dengan cepat berubah menjadi kekerasan: tempat sampah dibakar, batu dan benda-benda dilemparkan ke arah petugas, satu bus rusak, dan satu mobil polisi dirusak
Satu perwira polisi dan satu warga sipil mengalami luka ringan. Petugas medis dikerahkan dengan pengawalan. Ketika seruan untuk membubarkan diri tidak diindahkan, polisi dan pasukan khusus menggunakan alat pengendali massa, termasuk granat kejut dan meriam air
Dalam pernyataannya, polisi mengatakan: “Kami akan menindak tegas setiap pelanggaran ketertiban umum – terutama jika membahayakan warga atau petugas


